Arsitektur Cermin Perkembangan Wajah bangsa
Tri Agung KristantoNothing new in this world. Pepatah Inggris itu terasa sangat tepat ketika membicarakan perkembangan arsitektur di negeri ini. Ini karena, memang hampir tidak ada yang baru dalam perkembangan desain bangunan, bahkan desain perkotaan, di negeri ini.Berbagai desain arsitektur yang ditawarkan pengembang kepada konsumen selama ini, yang diklaim sebagai sesuatu yang baru, bahkan menjadi tren, adalah perkembangan dari desain yang sudah berkembang dan dikenal pada masa sebelumnya. Bahkan, yang terasa baru di Indonesia, itu pun tidak lebih dari mencontoh yang sudah ada sebelumnya, dan cenderung terlambat dibandingkan dengan perkembangan arsitektur di dunia mutakhir.Setidaknya, itulah penilaian arsitek dan perencana perkotaan dari Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata, Semarang, Dr Andi Siswanto, dalam percakapan dengan Kompas, Senin (10/4) di Semarang.Ia menyatakan, tidak berlebihan jika disebutkan bahwa wajah arsitektur yang berkembang di sebuah kawasan sebenarnya wajah penghuni kawasan itu. Perkembangan arsitektur di negeri ini juga sesungguhnya adalah wajah kita juga."Di Indonesia, proses transformasi arsitektur berlangsung secara medioker. Kecerdasan kita pun medioker. Akibatnya, perkembangan arsitektur di negeri ini tidak menghasilkan sistem estetika yang bagus. Padahal, arsitektur sebenarnya merupakan sistem estetika (keindahan) yang mengalami sofistifikasi (penyempurnaan)," ujar pimpinan CV Wiswakarman, konsultan arsitektur dan urban design (rancang bangun perkotaan) yang mempunyai proyek di seluruh Indonesia itu.Ia mencontohkan, perkembangan arsitektur dan urban design di Batam yang, menurut dia, jauh dari sebuah keindahan. Bahkan, yang terjadi adalah sebuah wajah yang "obar-abir", belang bonteng, tidak memiliki pola yang jelas, sehingga tak ada harmoni yang enak dinikmati siapa pun. Yang terjadi penonjolan diri masing-masing pengembang (developer), dan bukan membentuk simfoni yang sesungguhnya menunjukkan wajah kota dan wajah penghuni kota itu.Sistem kepercayaanPadahal, ujar Andi Siswanto, arsitektur bisa menjadi wajah kita karena ia ditata juga berlandaskan pemahaman pada sistem kepercayaan dan spiritual kita. Estetika itu sesungguhnya juga berangkat dari sistem kepercayaan dan spiritualisme.Itu sebabnya, pembangunan candi pada masa lalu tidak dilakukan sembarangan. Umumnya terletak di perbukitan nan tinggi, sebab ingin menggambarkan spiritualisme orang masa lalu yang ingin dekat Yang di Atas.Joglo dalam tradisi arsitektur Jawa dibangun terbuka karena menggambarkan keterbukaan dan harmoni yang ingin dikembangkan orang Jawa pada masa lalu. Karena itu, perkembangan arsitektur di sebuah kawasan, yang selalu berangkat dari nilai spiritualisme dan kepercayaan itu, dapat menceritakan sejarah perkembangan kawasan tersebut."Kecenderungan di Batam itu kini mulai tampak di Jawa Tengah juga. Lihat saja di Salatiga, mulai muncul bangunan ruko (rumah toko) yang warnanya nyeter (mencolok)," tuturnya.Kondisi itu tentu saja tidak selaras dengan perkembangan bangunan di sekitarnya, yang lebih dulu ada. Jadi, akhirnya ada yang terputus dari perkembangan wajah kota itu.Akan tetapi, kondisi itu sebenarnya bukan hal baru juga di negeri ini. Di banyak kawasan keramaian di negeri ini, terutama di pusat perekonomian di sejumlah kota, sepuluh tahun terakhir bermunculan bangunan mal yang sebenarnya secara arsitektural tidaklah menarik, tidak indah. Bangunan mal umumnya ingin mendominasi dengan menampilkan warna yang amat mencolok. Keadaan ini tidak "nyambung" dengan sekitarnya.Minimalis yang ketinggalanArsitek dari Universitas Kristen Petra, Surabaya, Freddy H Istanto, menyebutkan, pembangunan mal itu bak penataan sebuah pertunjukan teater. Segala sesuatunya terpusat pada "panggung", yaitu mal itu. Dalam sebuah mal terakomodasi semua peran masyarakatnya dalam konteks budaya masa kini (Kompas, 23/3/2002).Wajah arsitektur kita saat ini memang tengah didominasi dengan gaya minimalis. Gaya ini sebenarnya masih bisa menyatu dalam harmoni wajah yang sudah terbentuk sebelumnya di negeri ini, jika bisa ditampilkan secara cerdas, karena sebenarnya gaya minimalis pun bukan sesuatu yang baru di Indonesia. Gaya ini sudah berkembang pada awal abad XX, dengan adanya sejumlah bangunan di berbagai kota yang menonjolkan gaya ini.Andi Siswanto menyebutkan, gaya minimalis yang kini amat dikenal dan disukai di Indonesia sebenarnya pengembangan dari neomodernisme, yang dibumikan sesuai dengan situasi dan kondisi negeri ini.Gaya ini mulai tampil nyata, misalnya, pada bangunan Kantor Gubernur Jawa Timur, Puri Gedeh (kediaman resmi Gubernur Jawa Tengah), eks gedung pertemuan Oei Tiong Ham di Semarang, dan rumah di Jalan Tumpang 3 Semarang (kediaman mertua Andi Siswanto), yang dibangun tahun 1930-1950-an.Ia memuji Kantor Gubernur Jawa Timur sebagai bangunan yang menawan di Indonesia, yang menampilkan gaya neomodern, yang kemudian berkembang menjadi gaya minimalis.Sayangnya, di negeri ini aliran itu pun tidak dikembangkan dengan baik. Sistem estetika yang dikembangkan tidak lagi berdasarkan teori, yang semestinya menjadi dasar dari pengembangan sebuah gaya arsitektur. Sebuah bangunan dengan arsitektur yang baik, bangunan itu saja sudah menunjukkan suatu keindahan tanpa harus dipertajam dengan penggunaan warna-warna cat yang mencolok."Orang Indonesia ini selera arsitekturnya sering kagetan, seperti OKB (orang kaya baru)," katanya menegaskan.Transformasi gaya neomodern pun, yang berkembang menjadi gaya minimalis, tidak berjalan sebagaimana mestinya. Transformasi itu berlangsung secara medioker sehingga tidak menghasilkan sistem estetika yang bagus, seperti yang bisa dilihat pada sejumlah perumahan yang dikembangkan developer. Perumahan itu amat terasa tidak menyatu dengan lingkungannya, dan seperti membentuk "kepingan" yang saling terpisah.Padahal, arsitektur merupakan hasil kecerdasan dan rasa estetika, yang didasari pada spiritualisme, filosofi, dan teori. Karena itu, peninggalan arsitektur pun dapat menjadi cermin sejarah perjalanan bangsa.Tetapi, kalau kini yang muncul adalah bangunan dengan arsitektur yang "obar-abir", medioker, mau menonjol sendiri dengan tanpa memedulikan harmoni di sekitarnya, barangkali memang itu wajah kita sekarang. Atau, kita memang sedang membuat sejarah yang menggambarkan egoisme kelompok masing-masing, tak peduli sekitar, serta kemampuan bangsa ini yang tidak lebih dari rata-rata orang lain di belahan dunia ini.Faktor kekuasaanHaruskah tangan kekuasaan dipakai untuk mengatur perkembangan arsitektur di negeri ini sehingga wajah yang terbentuk menjadi lebih baik? Apalagi, dalam sejarahnya sering kali perkembangan arsitektur tidak lepas dari pengaruh politik, kekuasaan.Pemerintah, seperti yang dilakukan pada sejumlah daerah, bisa saja menetapkan gaya arsitektur yang harus dipakai setiap bangunan di daerah itu.Terhadap ide ini, Andi Siswanto justru mengkhawatirkannya. Sebuah kawasan bisa indah dan harmonis dengan bangunannya jika penatanya mempunyai pengetahuan yang memadai berkaitan dengan desain perkotaan dan arsitektur. Bukan sekadar mempunyai kekuasaan, dengan pengetahuan arsitektur dan desain perkotaan yang pas-pasan, bahkan berselera kagetan. Ini justru berbahaya.Pemerintah daerah di sejumlah kota, misalnya, mensyaratkan bangunan dengan arsitektur tradisional untuk berbagai kepentingan. Setidaknya ada ciri arsitektur tradisional yang ditampilkan pada bangunan yang dibuat di daerah itu. Padahal, bangunan berbentuk joglo, misalnya, tentu tak dapat dipakai untuk pusat perbelanjaan karena filosofinya berbeda. Namun, karut-marut seperti ini ternyata sampai sekarang masih terjadi.
Dwi Yulianto
Fakultas Teknik
urusan Arsitektur
Universitas Borobudur
Senin, 08 Desember 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar